Headline
05:33:14 pm
Wednesday 25th, July 2018 /
17 March,2016
Syiah (شيعة) merupakan salah satu aliran dalam islam yang
memiliki jumlah pengikut terbesar nomor dua setelah aliran sunni
(ahlussunnah Wal jama’ah atau yang biasa disingkat ASWAJA). Dalam
kenyataannya, kedua aliran tersebut memiliki kontroversi hubungan yang
bermula sejak awal perpecahan di antara pengikut bani Umayyah dan
pengikut Ali Bin Abi Thalib, baik secara politis maupun ideologisnya.
Aliran ini timbul sebagai akibat dari ketidakpuasan sebagian kalangan
terkait dengan kepemimpinan umat islam setelah Rosulullah Sholallahu
Alaihi Wassalam wafat. Menurut mereka, seharusnya penerus kepemimpinan
umat islah pasca wafatnya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam adalah
keturunan Nabi, seperti Ali Bin Abi Thalib, dan bukan Umar Bin Khattab,
Abu Bakar Ash- Shiddiq, serta Utsman Bin Affan.
Penganut aliran syi’ah disebut sebagai syi’i (شيعي) dan kaum sunni menyebut pengikut syi’ah sebagai rafidhah yang secara etimologi bahasa arab bermakna meninggalkan. Beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama islam seperti Indonesia dan Malaysia telah menyatakan bahwa syi’ah bukanlah islam, karena syi’ah tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama islam. Untuk mengenal ajaran ini lebih jauh, berikut ini ulasan singkatnya.
Hakikat Ajaran Syi’ah
Aliran Syi’ah juga biasa disebut dengan nama syi’ah Ali yang artinya pengikut atau pendukung Ali Bin Abi Thalib yang merupakan Khalifah keempat sejak wafatnya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam. Itu artinya, ajaran tersebut telah ada sejak kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib. Akan tetapi yang cukup mengherankan adalah ajaran ini sifatnya tertutup, sehingga data-data yang berkenaan dengan ajaran syi’ah sangat sulit untuk didapatkan oleh beberapa pihak. Selain itu, agar ajaran syi’ah tersebut dapat lebih mudah diterima di hati masyarakat, para tokoh aliran lebih menyukai menyebarkan ajaran mereka dengan bertamengkan ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah.
Akidah yang dimiliki oleh pengikut aliran syi’ah telah dianggap menyimpang dan bertentangan dari ajaran islam dan merupakan bahaya syiah , seperti :
1. Pengikut ajar syi’ah menganggap bahwa Al-Qur’an yang menjadi pegangan bagi kaum muslimin memiliki perbedaan dengan Al-Qur’an yang dimiliki oleh ahlul bait. Salah satu ahli hadist dari kalangan syiah yang bernama Muhammad bin Murtadha Al-Kasyi dalam Tafsir Ash-Shaafi, 1:33 menyatakan bahwa “Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang pada satu ayat pun dari Alquran. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Alquran satu ayat pun sebagai argumentasi. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengan Alquran ….”
2. Aliran ini telah mengkafirkan para sahabat Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam, terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Bin Khattab radhiallahu ‘anhuma. Bahkan pengikut ajaran syiah melaknat kedua sahabat Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam tersebut di dalam do’a mereka. Berikut do’a kaum tersebut :
اللهم صل على محمد، وآل محمد، اللهم العن
صنمي قريش، وجبتيهما، وطاغوتيهما، وإفكيهما، وابنتيهما، اللذين خالفا أمرك،
وأنكروا وحيك، وجحدوا إنعامك، وعصيا رسولك، وقلبا دينك، وحرّفا كتابك
Artinya “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan
keluarga Muhammad. Ya Allah, laknat bagi dua berhala Quraisy (Abu Bakr
dan Umar pen.), Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta
putra-putri mereka berdua. Mereka berdua telah membangkang perintah-Mu,
mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu,
menjungkir-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu…..dst.”3. Aliran ini tidak mempergunakan riwayat Ahlusunnah yang menjadi referensi kedua setelah Al-Qur’an di dalam ajaran mereka. Akan tetapi ajaran ini memiliki sumber hadist mereka sendiri seperti al-kaafi, Man La Yahdhuruh Al-Faqih, Tahdzib Al-Ahkam, Al-Istibshar, dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan hadist Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam berikut :
أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد
حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها
ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا
عليها بالنواجذ
Artinya “Aku nasihatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada
Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memerintah kalian) seorang
budak Habsyi. Orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku nanti)
akan menjumpai banyak perselisihan. Waspadailah hal-hal yang baru,
karena semua itu adalah kesesatan. Barangsiapa yang menjumpainya, maka
wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada sunahku dan sunah
Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia erat-erat
dengan gigi geraham.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya)4. Penganut aliran ini seringkali melakukan perbuatan yang melampaui batas terhadap imam-imam mereka. Bahkan mereka juga dapat menuhankan pemimpin mereka tersebut. Intinya adalah penganut ajaran syi’ah menganggap bahwa seorang imam memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari para Nabi (kecuali Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam). Hal ini sebagaimana tertera di dalam beberapa riwayat dalam Al- kaafi, seperti :
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْإِمَامَ إِذَا شَاءَ أَنْ يَعْلَمَ أُعْلِمَ
Artinya “Dari Abu Abdillah (‘alaihissalam), ia berkata, “Sesungguhnya seorang imam jika ia ingin mengetahui, maka ia akan mengetahui.” (Al-Kaafi, 1:258)5. Syi’ah telah menganggap bahwa Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam telah gagal dalam membimbing umatnya, dan Beliau Sholallahu Alaihi Wassalam dianggap telah menyembunyikan sebagian risalah yang diamanatkan kepadanya. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Nahju Khomaini hal. 46 yang menyatakan bahwa “Sungguh semua Nabi telah datang untuk menancapkan keadilan di dunia, akan tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan termasuk Nabi Muhammad, penutup para Nabi, dimana beliau datang untuk memperbaiki umat manusia, menginginkan keadilan, dan mendidik manusa – tidak berhasil dalam hal itu….”
6. Mereka yang menjadi pengikut aliran syi’ah telah menganggap bahwa golongan ahlusunnah adalah kafir.
7. Cara beribadah pengikut ajaran syi’ah memiliki perbedaan yang cukup besar dengan kaum ahlusunnah. Adapun beberapa perbedaan tersebut di antaranya adalah :
- Rukun islam bagi umat islam ada lima, yaitu Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dalam islam, dan Haji. Sedangkan rukun islam bagi pengikut syi’ah juga ada lima, yaitu Sholat, Puasa, Zakat, Haji, dan Wilayah.
- Rukun Iman bagi umat islam ada enam, yaitu Iman Kepada Allah, Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Kitab-Kitab, Iman Kepada Para Rasul, Iman Kepada hari qiamat, dan Iman Kepada Qadha Qadar. Sedangkan rukun iman bagi pengikut syi’ah ada lima, yaitu Tauhid, Nubuwah (Kenabian), Imamah, Keadilan, dan al-Ma’ad (Qiamat).
- Pengikut syi’ah tidak meyakini tentang keabsahan shalat jum’at.
- Dalam menjalankan sholat, para pengikut syi’ah tidak mengakhiri sholat mereka dengan mengucapkan salam seperti sholat pada umumnya, akan tetapi mereka biasanya mengakhiri sholat dengan memukul kedua pahanya beberapa kali.
- Syi’ah tidak mengakui kebenaran tentang kewajiban shalat wajib lima waktu, akan tetapi hanya tiga waktu saja.
- Dalam berdzikir, pengikut syi’ah tidaklah menyebut nama Allah SWT, akan tetapi yang mereka sebut-sebut adalah nama Husain, Fatimah, atau ahlu bait lainnya.
- Pengikut ajaran syi’ah sangat jarang membaca Al- Qur’an, dan jika mereka melakukannya itu hanya sebagai bentuk kamuflase semata, karena sesungguhnya mereka tidak mempercayai Al- Qur’an. Bagi mereka Al- Qur’an yang benar adalah di tangan Al- Mahdi.
- Pada saat berpuasa, pengikut ajaran syi’ah tidak akan segera berbuka puasa setelah mendengarkan adzan magrib. Mereka memiliki pandangan yang sama dengan kaum Yahudi yang berbuka puasa ketika bintang-bintang telah bermunculan di langit.
